judul di atas mungkin terdengar klise. tapi begitulah adanya. berbuat baik itu sebenarnya mudah. justru menerima perbuatan baik itu yang susah. lho, kok bisa demikian?
berikut pengalaman kami yang mungkin akan menginspirasi kepada para pembaca untuk tergerak hati berbagi apa saja dengan kami. dimulai pada awal april 2008 yang lalu. lsm kami memberikan sebuah penawaran pendidikan gratis kepada kaum dhuafa’, khususnya bagi anak yatim/yatim piatu yang memasuki usia sekolah sd.
bekerjasama dengan sebuah pondok pesantren di bogor, kami tawarkan kepada anak yatim/yatim piatu yang berusia 6-10 tahun untuk memperoleh pendidikan umum dan kepesantrenan secara gratis (gratis yang sebenarnya tanpa tambahan biaya apapun). kami tawarkan lewat forum-forum pengajian. mendatangi rumah keluarga (dhuafa’). bahkan iklan melalui media massa.
hari demi hari. minggu demi minggu terlewati. hanya beberapa orang saja yang mengontak kami. itupun hanya sebatas meminta informasi. tapi kami coba tidak putus harapan. akhirnya kami lanjutkan hunting lewat beberapa donatur lembaga sosial. dari mereka kami dapatkan beberapa nama keluarga.
selanjutnya satu per-satu kami datangi rumah mereka. dan seperti yang telah kami duga sebelumnya, pasti akan banyak negoisasi. tapi prinsip kami, berbuat baik kenapa takut? berbagai cara dari keluarga yang kami tawari untuk menolak secara halus. alasan yang dikemukakan biasanya:
1. tempatnya kok jauh,
2. keluarga yang lain masih sanggup menanggung biaya hidup, atau
3. nanti kalau sekolah di sekitar rumah bisa gratis.
padahal kenyataan yang telah terjadi, seringkali anak-anak yatim dari keluarga dhuafa’ itu menjadi brokenhome. atau tidak jelas jluntrungnya. padahal dalam program yang kami tawarkan, anak-anak tersebut akan memperoleh pendidikan umum dan agama yang jelas. sebab mereka hidup dan beraktivitas di dalam lingkungan pondok pesantren. jika sesekali ingin jajan. merekapun dapat uang saku.
tapi inilah kenyataannya. tapi kami yakinkan sendiri kepada kami dan mitra yang lain bahwa apa yang menurut kita baik. tidak akan selalu diterima baik juga oleh mereka yang (sebenarnya) membutuhkan.
sebab semangat filantropi, kedermawanan, jangan terpola dengan wujud uang. gunakan sebaik mungkin untuk kegiatan-kegiatan penunjang keterampilan hidup. sebagaimana pepetah: jangan berikan mereka ikan, tapi berikan mereka kail. sebab ikan akan akan habis dengan sekali makin. namun jika kail, akan mampu mendapatkan ikan, berapapun yang mereka inginkan.
dan untuk tahun 2009 ini. kami tetap menawarkankan program ini.